Arzeti Apresiasi Upaya Pemerintah Suplai Molnupiravir
Anggota Komisi IX DPR RI Arzetti Bilbina saat rapat kerja dengan Menteri Kesehatan dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 serta Direktur Utama PT Biofarma di Komisi IX DPR, Senayan, Senin (8/11/2021). Foto: Mentari/nvl
Anggota Komisi IX DPR RI Arzetti Bilbina mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan kondisi penanganan pandemi Covid-19. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pencegahan dan mitigasi dalam menghadapi potensi gelombang ketiga adalah dengan menambah suplai Molnupiravir.
"Salah satu strategi penangan Covid-19 adalah mensuplai obat antivirus Covid-19 jenis Molnupiravir sebagai upaya mengantisipasi adanya gelombang ketiga Covid-19," kata Arzetti saat rapat kerja dengan Menteri Kesehatan dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 serta Direktur Utama PT Biofarma di Komisi IX DPR, Senayan, Senin (8/11/2021).
Namun, Arzetti mendorong kemenkes untuk mengutamakan produk dalam negeri dalam penanganan pandemi Covid-19, yaitu obat dan vaksin yang telah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM RI. Tak hanya itu, alat kesehatan yang telah mendapatkan izin edar dari Kemenkes juga perlu diutamakan guna meningkatkan ketahanan sistem kesehatan nasional.
"Karena bapak (Menteri Kesehatan) menyampaikan rencana jangka pendek dan jangka panjang, kami mau tahu sejauh apa hasil kesepakatan dengan produsen obat dan alkes untuk saat ini. Karena kami mendorong Kemenkes untuk mengutamakan produk dalam negeri dalam penangan pandemi Covid-19," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menyampaikan pemerintah Indonesia akan membeli 600 ribu hingga 1 juta tablet obat Molnupiravir dari Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan demi mengantisipasi adanya gelombang ketiga Covid-19.
“Kemarin kami sudah ke Amerika, deal dengan Merck (perusahaan farmasi). Rencananya kami akan beli dulu sementara 600 ribu sampai 1 juta tablet bulan Desember. Jadi mempersiapkan diri, mudah-mudahan tidak terjadi (gelombang ketiga Covid-19). Tapi kalau terjadi seenggaknya kami punya stok obatnya dulu,” ungkapnya.
Namun untuk rencana jangka menengah, Indonesia kata Budi diharapkan dapat memproduksi sendiri Molnupiravir dengan terlebih dahulu mengajukan hak paten obat tersebut melalui jalur United Nation pada badan khusus yang menangani yakni medicines patent pool. Pengajuan hak paten tersebut saat ini kata Budi sedang dalam proses finalisasi.
Beberapa perusahan yang mengajukan hak paten di antaranya adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta. “Syukur kalau bisa cepat kemungkinan tahun depan kita bisa bikin (Molnupiravir) ini disini sehingga memperkuat sistem kesehatan kita,” pungkas Budi. (rnm/es)